Selasa, 14 Desember 2010

Jenis-Jenis Penyakit Kanker

Ada beberapa jenis penyakit kanker yang sering ditemukan menyerang seseorang, antara lain sebagai berikut:
1. kanker pada kandung kemih
2. kanker pada saluran empedu
3. kanker darah
4. kanker tulang

5. kanker usus besar
6. kanker dada
7. kanker kandung empedu
8. kanker hati
9. kanker buah pinggang
10. kanker paru-paru
11. kanker pada pangkal tenggorokan
12. kanker mulut
13. kanker selaput perut
14. kanker kulit
15. kanker perut
16. kanker kelenjar alat kelamin
17. kanker kelenjar getah bening
18. kanker rahim
Penyakit kanker ini secara umum banyak ditemukan menyerang orang yang berusia di atas setengah baya, berkedudukan lumayan, dan berpola hidup mewah.
Baca Artikel Kanker Selengkapnya...

Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner bukan penyakit infeksi bakteri yang mudah dihalau apabila mendapat antiobiotik yang tepat. Penyakit ini juga bukan seperti penyakit usus buntu yang dapat diselesaikan dengan tuntas saat sang usus yang meradang itu dipotong. Penyakit ini adalah penyakit kronis yang terus mendera pembuluh darah jantung seseorang seumur hidupnya.

Obat-obatan penyakit jantung koroner dimaksudkan tidak sekadar mengurangi atau bahkan menghilangkan keluhan. Yang lebih penting lagi adalah memelihara fungsi jantung sehingga harapan hidup akan meningkat. Obat-obat jantung bekerja dengan berbagai mekanisme.
- Obat nitrat (isoborbide dinitrat) yang biasanya diberikan di bawah lidah dimaksudkan untuk melebarkan sesaat pembuluh koroner.
- Obat penyekat beta (bisoprolol, metoprolol, carvedilol) bekerja menurunkan laju irarna agar jantung tidak boron menggunakan oksigen.
- Obat aspirin bekerja mengencerkan darah agar tidak terbentuk gumpalan darah.
- Obat statin bekerja terutama menurunkan kadar kolesterol jahat sehingga menekan progresivitas penyakit serta menstabilkan kerak-kerak agar tidak mudah retak. Kerak yang retak di pembuluh darah dapat memicu serangan jantung.

Obat-obat ini, walaupun rasa sakit sudah hilang, mesti diminum terus apabila tidak ada kontraindikasi. Pada penderita dengan penyempitan yang berat, diperlukan tindakan intervensi jantung; apakah dengan pemasangan cincin (stent) atau operasi bypass. Walaupun tindakan intervensi dilakukan, obatobat yang diperlukan bagi kesehatan pembuluh darah mesti tetap dikonsumsi. Sejatinya, tindakan pemasangan cincin PJK adalah untuk mengatasi penyempitan pembuluh koroner adalah tindakan lokal, yaitu hanya lokasi-lokasi tertentu yang dipasangi cincin.

Penyakit jantung koroner adalah penyakit sistemik sehingga ancaman ini sebenarnya terjadi pada keseluruhan pembuluh darah itu sendiri, bahkan juga pembuluh
darah di organ-organ lain. Di lokasi penyempitan yang sudah seumur hidupnya. dipasangi cincin juga bisa menyempit ulang (restenosis) atau bahkan terbentuk gumpalan darah (in stent thrombosis). ltu sebabnya, tidak heran jika sebagian orang harus menjalani prosedur ulang, baik mengatasi penyempitan di tempat lain ataupun penyempitan ulang di lokasi yang sama.

Adapun operasi bypass sejatinya dimaksudkan untuk membuat rute baru bagi darah agar tidak melalui jalan yang menyempit. Jadi, proses pembentukan kerak itu bisa saja terus terjadi dan memperberat pembuluh asli itu sendiri, atau memengaruhi pembuluh darah baru yang dijadikan pembuluh penyambung (graft).

Pustaka
Menakluklan Pembunuh No.1 Oleh Dr. A. Fauzi Yahya, Sp.J.P.(K), FIHA
Baca Artikel Kanker Selengkapnya...

Rabu, 08 Desember 2010

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Kanker

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Kanker

Definisi Kanker
1. Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan pertumbuhan sel-sel.

sel kanker
Penyebab mutasi genom berubah dari satu atau lebih gen atau mutasi dari segmen besar dari untai DNA yang mengandung banyak gen atau kehilangan segmen kromosom besar (Guyton, 1981).
2. Kanker bukanlah penyakit tunggal dengan satu penyebab, melainkan merupakan grup penyakit berbeda dengan penyebab yang berbeda, manifestasi, perawatan dan prognosis (Brunner).


Epidemiologi Kanker
• Jumlah pasien kanker meningkat di Amerika, Eropa, Asia
• Kulit hitam lebih banyak dari kulit putih
• Vegetarian lebih sedikit dari non vegetarian
• Faktor penyebab utama :
- Lingkungan, social
- Fisik : radiasi, perlukaan/lecet
- Kimia : makanan, industri, farmasi, rokok
- Genetik : payudara, uterus
- Virus : umumnya pada binatang

Jenis/Lokasi Kanker
1. Payudara
2. Kolon rektum
3. Laring
4. Paru
5. Leukemia
6. Pankreas
7. Prostat
8. Gaster
9. Uterus
10. Serviks
11. Lain : Hodgkin’s, Thyroid dll

Penamaan Kanker
Dinamakan bedasarkan jaringan asalnya. Sarcoma berasal dari jaringan mesodermal yang terdiri dari jaringan ikat, tulang, kartilage, lemak, otot dan pembuluh darah. Osteosarcoma menunjukan kanker tulang. Carcinoma menunjukan tumor yang berasal dari jaringan epitel seperti membran mukosa dan kelenjar (termasuk didalamnya kanker payudara, ovarium, dan paru). Kanker sumsum tulang disebut dengan myeloma. Sementara kanker darah atau hemopoietik dikenal sebagai balstoma dan tumor dapat meliputi kanker lympe, eritrosit, dan sel mieloid. Leukemias menjelaskan tentang kanker yang berasal dari sel darah putih yang dapat di golongkan menjadi myeloid, lymphatik atau monositik

Peran Perawat

1. Promotif sampai dengan rehabilitatif
2. Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostik
3. Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual
4. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien
5. Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap keganasan
6. Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi
7. Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
8. Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker

Diagnostik Kanker
1. Riwayat keperawatan & penyakit, sosial, pemeriksaan fisik
2. Biopsi patologis
3. Pemeriksaan darah, darah lengkap, thrombosit, kimia darah: elektrolit & LFT & BUN & chreatinin
4. Imaging : foto toraks, scan-nuklir, CT-scan, MRI.

Manajemen : Pendekatan Multi Disiplin
Tindakan pengobatan:
1. pembedahan,
2. kemotherapi,
3. radiasi,
4. imunotherapi, atau
5. kombinasi

Jenis Pembedahan :
1. Biopsi
2. Rekontruksi
3. Paliatif
4. Adjuvant
5. Pembedahan primer otak
6. Reseksi metastasis
7. Profilaksis : polip
8. Kuratif

Kemotherapi

Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker
Indikasi dan prinsip :
1. Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu sel normal
2. Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif
3. Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya
4. Obat kemotherapi umumnya sangat toksik Þ teliti/cermat evaluasi kondisi pasien

Komplikasi Kemotherapi
1. Efek samping :
- nausea, vomiting
- alopecia
- rasa (pengecap) menurun
- mucositis
2. toksik
- hematologik : depresi sumsum tulang, anemia
- ginjal, hepar

Radiotherapy
1. Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides)
2. Pada X-ray therapy, radiasi diberikan secara lokal untuk menghindari kerusakan jaringan sehat lainnya.

Pengkajian Keperawatan pada Askep Kanker
A. Sistem Integumen
1. Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus
2. Inspeksi kemerahan & gatal, eritema
3. Perhatikan pigmentasi kulit
4. Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah

B. Sistem Gastrointestinal
1. Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi
2. Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
3. Kaji diare & konstipasi
4. Kaji anoreksia
5. Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan

C. Sistem Hematopoetik
1. Kaji Netropenia
a. Kaji tanda infeksi
b. Auskultasi paru
c. Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe
d. Kaji suhu
2. Kaji Trombositopenia : < 50.000/m3 - menengah, < 20.000/m3 - berat 3. Kaji Anemia a. Warna kulit, capilarry refill b. Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo D. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular 1. Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif - terutama bleomisin 2. Kaji tanda CHF 3. Lakukan pemeriksaan EKG E. Sistem Neuromuskular 1. Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik 2. Perhatikan adanya parestesia 3. Evaluasi refleks 4. Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki 5. Kaji gangguan pendengaran 6. Diskusikan ADL F. Sistem Genitourinari 1. Kaji frekwensi BAK 2. Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine 3. Kaji : hematuria, oliguria, anuria 4. Monitor BUN, kreatinin Diagnosa Keperawatan pada Askep Kanker
1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
3. Resiko gangguan Perfusi Jaringan
4. Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
5. Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
6. Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
7. Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut
8. Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
9. Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
10. Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi

Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
1. Kaji resiko yang dapat terjadi akibat depresi sistem imun:
2. Jenis, dosis, cara pemberian kemoterapi
3. Stressor yang sedang dialami klien dan kemampuan koping yang dimiliki
4. Kebiasaan kebersihan diri
5. Pola tidur
6. Pola makan
7. Pola eliminasi
8. Riwayat & pemeriksaan fisik
9. Tanda-tanda infeksi: demam, adanya nyeri menelan, nyeri saat eliminasi, adanya exudat
10. Tanda perdarahan: pusing, adanya perdarahan
11. Tanda anemia: pucat, lemah, sesak nafas saat aktifitas
12. Fungsi pernafasan & suara nafas
13. Laboratorium: DPL
14. Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3 15. Lindungi klien dari terpaparnya bakteri 16. Tempatkan klien di ruang isolasi 17. Pasang papan pengumuman di pintu masuk ruang isolasi klien yang menginformasikan: pengunjung harus cuci tangan sebelum masuk, pengunjung yang FLU dilarang masuk dan DILARANG membawa buah, bunga atau sayuran segar ke ruangan klien 18. Pasang papan pengumuman yang menginformasikan TIDAK BOLEH menginjeksi per-IM dan mengukur suhu per-rektum 19. Rencanakan program kebersihan mulut, mandi sehari sekali, dan kebersihan area perineum dalam kegiatan perawatan klien 20. Kaji tempat penusukan infus, ganti balutan dengan teknik aseptik 2 hari sekali atau apabila ada tanda-tanda plebitis 21. Hindari tindakan invasif (jika memungkinkan) 22. Cuci tangan sebelum merawat klien, tidak menempatkan petugas kesehatan yang FLU (atau infeksi lain) atau yang merawat klien yang terinfeksi di ruang isolasi 23. Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3 24. Kaji terus menerus adanya infeksi pada klien 25. Monitor tanda vital terutama pada peningkatan temperatur 26. Monitor angka lab neutrofil 27. Kaji tanda infeksi seperti kemerahan, adanya peradangan di area tertentu (mukosa mulut, tempat bekas penusukan suntik/infus, dll) 28. Monitor perubahan warna urin, sputum & feses Diagnosa 2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
1. Lakukan tindakan khusus jika trombosit menurun / meningkat
2. Cegah klien dari trauma dan resiko perdarahan
3. Pasang tanda “Dilarang” injeksi per IM dan pemberian obat aspirin
4. Minimalkan penusukan vena atau tekan bekas penusukan minimal 5 menit
5. Ajarkan cara sikat gigi dengan sikat gigi lembut, hindari penggunaan dental floss
6. Pasang pembatas tempat tidur
7. Cegah konstipasi dengan pemberian cairan minimal 3 L/hari
Monitor terjadinya perdarahan
1. Kaji tanda infeksi dini: petekie, ekimosis, epistaksis, darah di feses, urin, dan muntahan
2. Perubahan tekanan darah ortostatik >10 mmHg atau nadi >100/mnt
3. Monitor hematokrit & trombosit
Lapor dokter jika ada tanda perdarahan
Diskusikan tanda & gejala infeksi yang terjadi ke dokter yang bertanggung jawab, kolaborasi perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan kultur, pemberian antipiretik & antibiotik

Diagnosa 3. Resiko gangguan Perfusi Jaringan
1. Kaji tanda dan gejala anemia
2. Hematokrit: 31-37% (anemia ringan), 25-30% (anemia sedang), <25%>
3. Tanda anemia ringan: pucat, lemah, sesak ringan, palpitasi, berkeringat dingin; anemia sedang: meningkat tingkat keparahan tanda dari anemia ringan; tanda anemia berat: sakit kepala, pusing, nyeri dada, sesak saat istirahat, dan takikardi)
4. Anjurkan klien untuk merubah posisi secara bertahap, dari tidur ke duduk, dari duduk ke berdiri.
5. Anjurkan latihan nafas dalam selama perubahan posisi.
6. Kaji respon pemberian transfusi, menjadi lebih baik atau tetap.
7. Kaji pula perubahan hematokrit setelah transfusi
8. Kaji adanya ketidak mampuan melakukan aktifitas, dan kebutuhan klien akan Oksigen
9. Kolaborasikan ke gizi & anjurkan klien untuk mendapatkan diet tinggi Fe (zat besi)
10. Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Ketidakmampuan melakukan aktifitas akibat anemia
11. Anjurkan klien untuk meningkatkan frekuensi & kualitas istirahat & buatkan daftar aktifitas-istirahat
12. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi zat besi seperti hati, telur, daging, wortel dan kismis

Diagnosa 4. Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
1. Anjurkan klien untuk minum 3L/hari
2. Monitor intake-output tiap 4 jam
3. Kaji frekuensi, konsistensi & volume diare/muntah
4. Kaji turgor kulit, kelembaban mukosa
5. Beri obat antidiare/antimuntah sesuai program
6. Rawat area kulit perineum dengan salep betametasone atau Zinc
7. Beri cairan rehidrasi (cairan fisiologis) per-infus sesuai program

Diagnosa 5. Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
1. Kaji & catat kondisi mukosa mulut (lidah, bibir, dinding & langit-langit mulut) & kaji adanya stomatitis tiap shift. Ajarkan pada klien cara mendeteksi dini adanya stomatitis
2. Kaji kenyamanan & kemampuan untuk makan & minum
3. Kaji status nutrisi klien
4. Anjurkan & ajarkan klien membersihkan mulut (kumur-kumur) tiap 2 jam
5. Gunakan cairan fisiologis, atau campuran cairan fisiologis dan BicNat (1 sdt dicampur 800 cc air) tiap 4 jam atau,
6. Gunakan larutan H2O2 dg perbandingan 1 : 4, atau
7. Obat kumur Listerine
8. Anjurkan & ajarkan sikat gigi dan menggunakan dental floss, & tidak dilakukan jika leukosit <1500/mm3>
9. Anjurkan & jelaskan klien untuk melepas gigi palsu saat kumur-kumur & saat sedang iritasi mukosa
10. Anjurkan & ajarkan klien untuk melembabkan mulut dengan cara banyak minum dan menggunakan pelembab bibir
11. Hindarkan makanan yang merangsang (pedas, panas & asam) & jelaskan pada klien

Diagnosa 6. Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
1. Berikan (kolaborasi) obat kumur yang mengandung xylocain 2% 10-15 cc per kumur dilakukan tiap 3 jam
2. Kolaborasikan perlunya pemberian analgesic sedang-kuat per parenteral (mis. Morphin)

Diagnosa 7. Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut
1. Kaji kemampuan komunikasi klien
2. Kaji adanya sekret yang kental yang sulit untuk dikeluarkan, anjurkan minum hangat
3. Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat berkomunikasi verbal
4. Responsif terhadap bel panggilan dari klien

Diagnosa 8. Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
1. Kaji area kulit perineum
2. Anjurkan untuk membersihkan menggunakan sabun lembut saat membilas sesudah bab
3. Oleskan anastetik topikal K/P
4. Gunakan pampers untuk menjaga keringnya area perineum
5. Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Terjadi Nefrotoksik akibat Kemoterapi
6. Hidrasi dengan cairan fisiologis 100-150cc/jam atau sampai cairan urin bening
7. Diuresis dengan furosemid sesuai dg program
8. Ukur pH urin (pH > 7)
9. Cegah dehidrasi dan muntah yang masif
10. Hidrasi pasca kemoterapi minimal 3L/hari
11. Monitor hasil lab ureum, creatinin

Diagnosa 9. Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
1. Kaji resiko terjadi alopesia, obat kemoterapi yang digunakan
2. Jelaskan penyebab dari alopesia dan dampak yang terjadi, yaitu alopesia terjadi sejenak, dapat tumbuh rambut yang baru
3. Anjurkan klien menceritakan perasaannya
4. Anjurakan klien mencukur rambutnya yang panjang
5. Anjurkan klien mencoba memakai kerudung, wig, topi atau selendang
6. Ikutkan klien pada kegiatan pasien alopesia di RS
7. Ajarkan cara perawatan kulit kepala dengan menggunakan sampoo baby, “sun cream”, dll
8. Jika terjadi kerontokan alis & bulu mata, gunakan kacamata hitam & topi jika bepergian

Diagnosa 10. Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi
1. Bina rasa saling percaya
2. Kaji pengetahuan klien tentang efek penyakit dan pengobatannya pa da fungsi seksual
3. Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk mendiskusikan masalah klien
4. Mendiskusikan strategi menghadapi disfungsi seksual
5. Alternatif pengekspresian seksual
6. Alternatif posisi yang meminimalkan nyeri
7. Melakukan aktifitas seksual saat kondisi tubuh fit
8. Membantu mengetahui perasaan seksual dirinya dan pasangannya
9. Penjelasan dampak kemoterapi pada fungsi seksual
10. Mendiskusikan alternatif pola dalam keluarga
11. Mengajak orangtua klien untuk merawat anaknya
12. Menganjurkan klien yang sulit punya anak untuk adopsi

Disunting dari : onkologi/Askep Kanker _ NursingBegin.com.htm
Baca Artikel Kanker Selengkapnya...

Kanker Vagina

Kanker Vagina
DEFINISI
Kanker Vagina adalah tumor ganas pada vagina.

Vagina adalah saluran sepanjang 7,5-10 cm; ujung atasnya berhubungan dengan serviks (leher rahim/bagian terendah dari rahim), sedangkan ujung bawahnya berhubungan dengan vulva.
Dinding vagina dilapisi oleh epitelium yang terbentuk dari sel-sel skuamosa. Di bawah epitelium terdapat jaringan ikat, otot involunter, kelenjar getah bening dan persarafan.
Dinding vagina memiliki banyak lipatan yang membantu agar vagina tetap terbuka selama hubungan seksual atau proses persalinan berlangsung.


Ada beberapa jenis kanker vagina:
1. Karsinoma sel skuamosa (85-90%)
Berasal dari lapisan epitelium vagina. Lebih banyak ditemukan di vagina bagian atas.
Karsinoma skuamosa biasanya ditemukan pada wanita berusia 60-80 tahun.
Karsinoma verukosa adalah sejenis karsinoma sel skuamosa yang tumbuhnya lambat. Karsinoma ini tumbuh ke arah rongga vagina dan tampak seperti kutil atau bunga kol.
2. Adenokarsinoma (5-10%)
Adenokarsinoma paling sering terjadi pada wanita berusia 12-30 tahun.
3. Melanoma maligna (2-3%)
Berasal dari sel-sel penghasil pigmen, lebih banyak ditemukan di vagina bagian bawah.
4. Sarkoma (2-3%)
Kanker ini tumbuh jauh di dalam dinding vagina, bukan pada epitelium.
Ada beberapa jenis sarkoma, yang paling sering ditemukan adalah leiomiosarkoma, yang menyerang wanita berusia 50 tahun ke atas.
Rabdomiosarkoma adalah kanker pada masa kanak-kanak, biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun. Sel-selnya mirip dengan sel otot volunter, yang merupakan suatu jaringan yang dalam keadaan normal tidak ditemukan pada dinding vagina.

Karsinoma sel skuamosa tidak tumbuh secara tiba-tiba, kanker ini berkembang selama bertahun-tahun dari suatu perubahan prekanker pada vagina yang disebut neoplasi intraepitel vagina (NIVA).

PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui.

Faktor resiko terjadinya kanker vagina:
1. Usia
Sekitar 50% penderita karsinoma skuamosa adalah wanita berusia 60 tahun keatas.
Sebagian besar kasus kanker vagina ditemukan pada wanita yang berusia 50-70 tahun.
2. DES (dietilstilbestrol)
DES adalah suatu obat hormonal yang banyak digunakan pada tahun 1940-1970 untuk mencegah keguguran pada wanita hamil.
Sebanyak 1 diantar 1000 wanita yang ibunya mengkonsumsi DES, menderita adenokarsinoma sel bersih pada vagina maupun serviks. Resiko tertinggi terjadi jika ibu mengkonsumsi DES pada usia kehamilan 16 minggu.
3. Adenosis vagina
Dalam keadaan normal vagina dilapisi oleh sel gepeng yang disebut sel skuamosa.
Pada sekitar 40% wanita yang telah mengalami menstruasi, pada vagina bisa ditemukan daerah-daerah tertentu yang dilapisi oleh sel-sel yang serupa dengan sel-sel yang ditemukan di dalam kelenjar rahim bagian bawah dan lapisan rahim. Keadaan ini disebut adenosis.
Hal tersebut terjadi pada hampir semua wanita yang terpapar oleh DES selama perkembangan janin.
4. Infeksi HPV (human papiloma virus)
HPV adalah virus penyebab kutil kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual.
5. Hubungan seksual pertama pada usia dini
6. Berganti-ganti pasangan
7. Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan
8. Kanker serviks
9. Iritsi vagina
10. Merokok.

GEJALA
Kanker vagina menyebabkan kerusakan pada lapisan vagina dan menyebabkan terbentuknya luka terbuka yang bisa mengalami perdarahan dan terinfeksi.

Penderita mungkin juga mengalami perdarahan melalui vagina (seringkali setelah melakukan hubungan seksual) atau dari vaginanya keluar cairan encer.

Jika kanker berukuran besar bisa mempengaruhi fungsi kandung kemih dan rektum sehingga penderita mengalami urgensi untuk berkemih dan mengalami nyeri ketika berkemih.

Gejala lainnya adalah:
- keluar cairan abnormal dari vagina
- terasa ada benjolan
- nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

Pada kanker stadium lanjut akan timbuli nyeri ketika berkemih, sembelit dan nyeri panggul yang menetap.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
• Kolposkopi (pemeriksaan dinding vagina dengan bantuan kaca pembesar)
• Biopsi (pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh jaringan vagina).


Staging

Staging merupakan proses penentuan penyebaran kanker, yang penting dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis penyakit.
Penilaian penyebaran kanker vagina melibatkan beberapa pemeriksaan berikut:
- Pemeriksaan fisik menyeluruh
- Pielogram intravena
- Barium enema
- Rontgen dada
- Sistoskopi
- Proktoskopi
- CT scan
- Skening tulang.

Stadium kanker vagina berdasarkan sistem FIGO:
• Stadium 0 (karsinoma in situ, NIVA 3) : sel-sel kanker terbatas pada epitelium vagina dan belum menyebar ke lapisan vagina lainnya.
Pada stadium ini kanker tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
• Stadium I : kanker telah menyebar ke bawah epitelium tetapi masih terbatas pada mukosa vagina (mukosa terdiri dari 2 lapisan, yaitu epitelium dan lamina propria atau stroma subepitel).
• Stadium IA : tumor berukuran kurang dari 2 cm dan telah tumbuh ke dalam dinding sedalam kurang dari 1 milimeter.
• Stadium IB : tumor lebih besar dari 2 cm dan telah menembus ke dalam dinding sedalam lebih dari 1 milimeter.
• Stadium II : kanker telah menyebar ke jaringan ikat vagina tetapi belum menyebar ke dinding panggul maupun organ lain.
• Stadium III : kanker telah menyebar ke dinding panggul dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama dengan tumor.
• Stadium IVA : kanker telah menyebar ke organ di dekat vagina (misalnya kandung kemih) dan/atau taelah menyebar keluar panggul dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening pada kedua sisi panggul.
• Stadium IVB : kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh (misalnya paru-paru).

PENGOBATAN
Pengobatan untuk keadaan prekanker (NIVA)

Untuk menentukan lokasi NIVA yang pasti, dilakukan pemeriksaan kolposkopi.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan biopsi.

Pilihan pengobatan untuk NIVA:
1. Bedah laser untuk menguapkan jaringan yang abnormal.
2. LEEP (loop electroexcision procedure) : digunakan kauter panas untuk membuang lesi pada vagina. Efektif untuk lesi yang kecil.
3. Kemoterapi topikal : digunakan kemoterapi (5FU/fluorouracil) yang dioleskan langsung ke vagina setiap malam selama 1-2 minggu atau setiap minggu selama 10 minggu.
Obat ini bisa menyebabkan iritasi vagina dan vulva.

NIVA tingkat rendah seringkali menghilang dengan sendirinya, karena itu pengobatan biasanya hanya dilakukan pada NIVA tingkat menengah atau tinggi.


Pengobatan untuk kanker vagina

Terdapat 3 macam pengobatan untuk kanker vagina:
1. Pembedahan
- Bedah laser
- Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sebagian jaringan di sekitarnya. Untuk memperbaiki vagina bisa dilkukan pencangkokan kulit yang diambil dari bagian tubuh lainnya.
- Vaginektomi (pengangkatan vagina).
Jika kanker telah menyebar keluar vagina, dilakukan vaginektomi dan histerektomi radikal (pengangkatan rahim, ovarium/indung telur dan tuba falopii/saluran indung telur). Pembedahan tersebut bisa disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening.
- Eksenterasi dilakukan jika kanker telah menyebar keluar vagina dan organ wanita lainnya. Pada pembedahan ini dilakukan engangkatan kolon bawah, rektum atau kandung kemih (tergantung lokasi penyebaran tumor) disertai pengangkatan serviks/leher rahim, rahim dan vagina.
Setelah pembedahan ini mungkin perlu dilakukan pencangkokan kulit dan bedah plastik untuk membuat vagina buatan.
2. Terapi penyinaran
Pada terapi penyinaran digunakan sinar X dosis tinggi atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.
Penyinaran yang berasal dari sebuah mesin disebut radiasi eksterna, sedangkan penyinaran yang berasal dari sebuah kapsul/tabung yang mengandung zat radioaktif dan dimasukkan ke dalam vagina radiasi interna.
Radiasi bisa digunakan secara terpisah atau sesudah pembedahan.
3. Kemoterapi
Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker.
Kemoterapi tersedia dalam bentuk pil atau suntikan intravena (melalui pembuluh darah).
Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena obat masuk ke dalam aliran darah dan bergerak ke seluruh tubuh serta membunuh sel-sel kanker yang berada diluar vagina.
Pada kemoterapi intravagina, obat kemoterapi dimasukkan langsung ke dalam vagina.

Pengobatan berdasarkan stadium
Pengobatan kanker vagina tergantung kepada stadium dan jenis penyakit, serta usia dan keadaan umum penderita.
1. Kanker vagina stadium 0
- Vaginektomi. Setelah vaginektomi mungkin harus dilakukan pencangkokan kulit untuk memperbaiki kerusakan pada vagina.
- Terapi radiasi interna
- Bedah laser
- Kemoterapi intravagina.
2. Kanker vagina stadium I
Kanker skuamosa
- Radiasi interna dengan atau tanpa radiasi eksterna
- Eksisi lokal luas, bisa diikuti dengan perbaikan vagina. Pada beberapa kasus, bisa diikuti dengan terapi penyinaran.
- Vaginektomi dan diseksi kelenjar getah bening
Adenokarsinoma
- Vaginektomi dan pengangkatan rahim, ovarium serta tuba falopii, disertai diseksi kelenjar getah bening panggul. Prosedur ini diikuti dengan perbaikan vagina.
Pada beberapa kasus bisa dilanjutkan dengan terapi penyinaran.
- Radiasi interna dengan atau tanpa radiasi eksterna.
- Pada kasus tertentu dilakukan eksisi lokal luas dan diseksi beberapa kelenjar getah bening panggul yang diikuti dengan radiasi interna.
3. Kanker vagina stadium II
- Kombinasi radiasi interna dan eksterna
- Pembedahan, yang bisa dilanjutkan dengan terapi penyinaran
4. Kanker vagina stadium III
- Kombinasi radiasi interna dan eksterna
- Pembedahan, kadang dikombinasikan dengan terapi penyinaran
5. Kanker vagina stadium IVA
- Kombinasi radiasi interna dan eksterna
- Pembedahan kadang dikombinasikan dengan terapi penyinaran
6. Kanker vagina stadium IVB
- Penyinaran untuk meringankan gejala nyeri, mual, muntah maupun gangguan fungsi pencernaan
- Kemoterapi.

Jika kanker berulang (kambuh kembali) dan menyebar ke organ wanita lainnya, maka dilakukan eksenterasi, tergantung kepada lokasi penyebaran kanker.
Bisa juga dilakukan terapi penyinaran dan kemoterapi.

PENCEGAHAN
Cara terbaik untuk mengurangi resiko kanker vagina adalah menghindari faktor resikonya.

Baca Artikel Kanker Selengkapnya...